Friday, October 5, 2012

MANAJEMEN KOMPONEN-KOMPONEN SEKOLAH

Oleh : Apta Agustina
          
 
Tampaknya dewasa ini, banyak pimpinan sekolah, guru, dan pengelola kurikulum tingkat sekolah yang kurang mampu mengarahkan perubahan di sekolahnya sesuai tuntutan masyarakat. Begitu juga dengan kebijakan pemerintah yang belum menemukan sistem pendidikan yang sesuai untuk negeri ini, bahkan beberapa kurun waktu yang tidak lama sudah berkali-kali kurikulum di Negara ini diubah.
Karena banyak berbagai perubahan perlu direspon setiap sekolah dengan berdasarkan pada perubahan kebijakan bidang pendidikan, baik kurikulum, pembinaan keprofesionalan guru, personil pegawai, sarana dan prasarana, pembinaan siswa. Bagaimanapun, kebutuhan masyarakat sebagai pelanggan, serta faktor luar perkembangan nasional, ekonomi, ilmu dan teknologi harus benar-benar direspon oleh seluruh komponen-komponen yang berpengaruh terhadap pendidikan di Negara ini, juga seluruh masyarakat Indonesia. Oleh karena itu diperlukan manajemen guna mengatur komponen-komponen tersebut agar pendidikan di Indonesia, terutama pendidikan di sekolah berjalan dengan baik dan terarah.
Menurut (Atmodiwirjo,2000:57), Manajemen sekolah 

Thursday, October 4, 2012

MANAJEMAN KURIKULUM

Oleh : Riswan Nurlianto

Kurikulum berasal dari kata “curere” yang dikata bendakan menjadi “curriculum”  (kurikulum). Sedangkan manajemen kurikulum merupakan seluruh proses kegiatan yang direncanakan dan diusahakan secara sengaja dan sungguh-sungguh serta pembinaan secara continyu terhadap situasi belajar secara efektif dan efisien demi membantu tercapainya tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.
Secara operasional kegiatan adminitrasi / manajemen kurikulum itu dapat meliputi kegiatan tiga kelompok yaitu, kegiatan yang berhubungan dengan tugas guru, peserta didik, dan seluruh aktivitas akademik atau warga sekolah / lembaga pendidikan.
Kegiatan yang berhubungan dengan tugas guru / pengajar dalam mengikuti jadwal pelajaran. Ada tiga jenis jadwal pelajaran untuk guru yaitu, jadwal pelajaran kurikuler (disusun secara edukatif olah guru / tim guru dengan memperhatikan ketentuan akademik), jadwal pelajaran kokurikuler (disusun secara strategic sesuai dengan situasi dan kondisi individual/kelompok peserta didik), jadwal pelajaran ekstra-kurikuler (disusun diluar jam pelajaran). Sedangkan jadwal pelajaran yang tatap muka dan non tatap muka yaitu pelajaran dalam kelas yang dibatasi oleh empat dinding atau kelas yang berupa lapngan olah raga, pasar, lalulintas dan sebagainya sesuai dengan menejemen kurikulum sekolah.
Tugas guru dalam kegiatan PBM yaitu, membuat persiapan / perencanaan pengajaran, melaksanakan pengajaran dan mengevaluasi hasil pengajaran. Dalam evaluasi kegiatan belajar mengajar dapat dibedakan atas tiga macam yaitu, evaluasi normative bagi siswa dan bagi pengajar, evaluasi sumatif, evaluasi diagnosis. Dalam kegiatan evaluasi / penilaian hasil belajar siswa ada dua acuan yaitu Norma Relatif atau sering disebut penilaian dengan acuan norma (PAN), dan penilaian dengan Acuan Kriteria atau sering disebut penilaian dengan acuan patokan (PAP)
Kegiatan yang berhubungan dengan tugas peserta didik / siswa yaitu, jadwal kegiatan belajar yang disusun oleh sekolah secara pendagogis beserta jadwal les / ulangan / ujian, dan jadwal belajar yang diatur sendiri oleh siswa dalam mensukseskan hasil studinya. Kegiatan yang berhubungan dengan selurug sivitas akademika, kegiatan ini merupakan pedoman sinkronisasi segala kegiatan sekolah yaitu kurikuler, ekstra-kurikuler, akademika / nonakademika dan sebagainya.

Wednesday, October 3, 2012

KONSEP SEKOLAH UNGGUL

Oleh: Erna Kuneni

Sekolah unggul ialah sekolah yang dikembangkan guna mencapai keunggulan dalam keluaran (output) pendidikannya. Keunggulan dalam keluaran yang dimaksud meliputi kualitas dasar (daya pikir) dan penguasaan ilmu pengetahuan, baik yang lunak (ekonomi, politik, sosiologi, dsb.) maupun yang keras (matematika, fisika, kimia, biologi, astronomi) termasuk penerapannya yaitu teknologi (konstruksi, manufaktur, komunikasi, dsb.). Secara umum, sekolah unggul memiliki keunggulan-keunggulan dalam input (siswa dan masukan instrumental), proses belajar mengajar, dan output (hasil belajar) yang ditunjukkan oleh kepemilikan kecerdasan majemuk (multiple intelligences). Sekolah unggul memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap prestasi belajar siswanya, profesionalisasi pendidik dan tenaga kependidikan menjadi fokus perhatian. Proses belajar mengajar yang efektif menjadi fokus perhatian sekolah. Kepemimpinan dan manajemen sekolah sangat professional. Sekolah mempertanggungjawabkan hasil belajar kepada publik (akuntabilitas). Visi, misi, tujuan, dan sasaran sekolah dimiliki bersama oleh warga sekolah. Selain itu, sekolah unggul juga ditujukan untuk  menyiapkan peserta didik agar memiliki kemampuan atau kompetensi untuk menghadapi era globalisasi, yaitu: (1) memiliki kemampuan dasar yang kuat dan luas, (2) mampu mengumpulkan, menganalisis, dan menggunakan data dan informasi (3) mampu meng-komunikasikan ide dan informasi. Sekolah harus dibangun secara bersama-sama oleh seluruh warga sekolah, bukan hanya oleh pemegang otoritas pendidikan.
Keunggulan akan dapat  dicapai apabila seluruh sumber daya sekolah dimanfaatkan secara optimal. Baik tenaga pendidik, tenaga administrasi, pengembang kurikulum, kepala sekolah, dan penjaga sekolah pun harus dilibatkan secara aktif. Karena sumber daya tersebut akan menciptakan iklim sekolah yang mampu membentuk keunggulan sekolah. Kunci utama sekolah unggul adalah keunggulan dalam pelayanan kepada siswa dengan memberikan kesempatan untuk mengembangkan potensi siswa seoptimal mungkin, serta seimbang. Kedua komitmen tinggi untuk unggul yang dipegang oleh staf administrasi, guru, dan kepala sekolah untuk menjadikan sekolahnya sebagai sekolah unggul dalam segala aspek, sehingga semua siswa dapat menguasai materi pokok dalam kurikulum. Semuanya memiliki potensi untuk berkontribusi dalam proses pendidikan. Komitmen ini adalah energi untuk mengubah budaya konvensional (biasa-biasa saja) menjadi budaya unggul. Membangun komitmen bersama adalah langkah awal dan penting untuk memulai proses menuju sekolah unggul. Ketiga,  guru sebagai pendidik harus memiliki kompetensi setidaknya sbb: (1) terampil menggunakan model mengajar berdasarkan penelitian (2) bekerja secara tim dalam merencanakan pelajaran, menilai siswa, dan dalam memecahkan masalah,(3) sebagai mentor bagi koleganya, (4) mengupayakan pembelajaran yang efisien, dan (5) berkolaborasi dengan orang tua, keluarga, dan anggota masyarakat lain demi pembelajaran siswa. Keempat , kesempatan untuk belajar dan pengaturan waktu yang jelas. Semua guru mengetahui apa yang mesti diajarkan. Alokasi waktu yang memadai dan penjadwalan yang tepat sangat berpengaruh bagi kualitas pengajaran.  Guru memanfaatkan waktu yang tersedia semaksimal mungkin demi penguasaan keterampilan. Dalam hal ini perlu dijaga keseimbangan antara tuntutan kurikulum dengan ketersediaan waktu.
 Kunci keberhasilan dalam hal ini adalah mengajar dengan niat akademik yang jelas dan siswa pun mengetahui niat itu.Mengajar yang berkualitas memiliki ciri sebagai berikut: (1) organisasi pembelajaran yang efisien, (2) tujuan yang jelas, (3) pelajaran yang terstruktur, dan(4) praktik mengajar yang adaptif dan fleksibel. Kelima lingkungan yang aman dan teratur, bersuasana tertib, bertujuan, serius, dan terbebas dari ancaman fisik atau psikis, tidak opresif tetapi kondusif untuk belajar dan mengajar. Siswa diajari agar berperilaku aman dan tertib melalui belajar bersama (cooperative learning ), menghargai kebinekaan manusiawi, serta apresiasi terhadap nilai-nilai demokratis. Banyak penelitian menunjukkan bahwa suasana sekolah yang sehat berpengaruh positif terhadap produktivitas,semangat kerja, dan kepuasan guru dan siswa.  Keenam, hubungan yang baik antara rumah dan sekolah. Para orang tua memahami misi dan visi sekolah. Mereka diberi kesempatan untuk berperan dalam program demi tercapainya visi dan misi tersebut. Dengan demikian, sekolah tidak hanya mendidik siswa, tetapi juga orang tua sebagai anggota keluarga sekolah yang dihargai dan dilibatkan. Dengan melibatkan mereka pada kegiatan ekstra di akhir pekan (extra school ) misalnya, siswa sadar bahwa orang tuanya menghargai kegiatan pendidikan,sehingga mereka pun menghargai pendidikan yang dilakoninya. Upacara-upacara yang dihadiri  orang tua sesungguhnya merupakan kesempatan untuk membangun citra sekolah dan untuk merayakan visi dan misi.  Ketujuh,  monitoring kemajuan siswa secara berkala Kemajuan siswa dimonitor terus- menerus dan hasil monitoring itu dipergunakan untuk memperbaiki perilaku dan performansi siswa dan untuk memperbaiki kurikulum secara keseluruhan. Penggunaan teknologi, khususnya komputer memudahkan dokumentasi hasil monitoring secara terus- menerus. Evaluasi penguasaan materi pelajaran secara perlahan bergeser dari tes baku menuju tes berdasar kurikulum dan berdasar kritera.

Manajemen Personal

Oleh : Dhiaz C. A. P.

Manajemen sekolah merupakan seluruh proses kegiatan yang direncanakan secara sengaja serta pembinaan secara kontinu para pegawai sekolah, sehingga membantu kegiatan sekolah secara efektif dan efisien demi tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.Personil sekolah atau karyawan sekolah terdiri atas :
1.      Tenaga edukatif : guru tetap dan tidak tetap, guru bantuan tetap.
2.      Tenaga non edukatif atau administratif atau pegawai TU tetap dan tidak tetap.
Kegiatan administrasi personal meliputi penyiapan/pengadaan, penataan, ujian dinas, kenaikan pangkat, pembinaan, pengembangan, penilaian dan pemberhentian.

Penyiapan/pengadaan juga bisa disebut rekruitmen calon pegawai untuk jadi pegawai. Penghadaan PNS adalah proses kegiatan mengisi formasi pegawai yang kosong, yang m dikarenakan ada pegawai yang berhenti atau adanya perluasan organisasi.
Menurut PP nomor 6 thn 1976 pasal 6 yaitu : warga Negara Indonesia (WNI), usia 18 sampai 40 tahun, tidak pernah dipenjara, tidak terrlibat gerakan menentang pancasila, berkelakuan baik, sehat, dll.

Penempatan, agar personel dapat pelaksanaan tugas secara tepat, mereka perlu ditata berdasar “the right man on the right place”, dengan memerhatikan berbagai hal :
1.      Latar belakang pendidikan, ijazah, dan interes kerjanya
2.       Pengalaman kerja
3.      Kemungkinan pengembangan
4.      Sikap dan sifat pribadi

Pembinaan PNS, yang dimaksud dengan sistem karir adalah suatu sistem kepegawaian, dimana untuk pengangkatan pertama didasarkan atas kecakapan yang bersangkutan, sedang pengembanganyya lebih lanjut, pengalaman, kesetiaan, pengabdian dan syarat obyektif lainnya yang menentukan. Sistem karir di bagi menjadi sistem karir terbuka dan tertutup.

Pengembangan personel, dalam melaksanakan tugasnya, seorang pegawai tidak akan statis tetapi berusaha untuk dinamis serta senantiasa berusaha untuk dapat meningkatkan prestasi, karir serta jabatannya. Untuk itulah kegiatan pengembangan pegawai terjadi baik di lingkungan pegawai negerin ataupun swasta.

Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan PNS. Hasil penilaian pelaksanaan pekerjaan tersebut d daftar di Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan (DP3). Dalam peraturan pemerintah ini ditentukan bahwa yang berwenang membuat penilaian adalah pejabat penilai, yaitu atasan langsung dan PNS yang bersangkutan dengan ketentuan serendah-rendahnya Kepala Urusan atau Pejabat lain yang setingkat dengan itu. Dan hal terakhir adalah pemberhentian PNS baik dari pegawai sendiri atau di putus oleh instansi

Tuesday, October 2, 2012

Manajemen Peserta Didik

oleh: ARIEF BAYU ADHI

Manajemen peserta didik proses kegiatan yang direncanakan dan dilakukan secara sengaja serta pembinaan secara kontinu terhadap peserta didik agar dapat mengikuti KBM secara efisien dan efektif demi tercapainya tujuan pendidikan. Manajemen peserta didik di lakukan oleh sekolah sejak penerimaan peserta didik sampai ia lulus.

Manajemen peserta didik menunjuk kegiatan luar dan dalam sekolah. Kegiatan dalam sekolah meliputi penerimaan peserta didik baru, pencatatan peserta didik baru, pembagian seragam sekolah, pembagian kartu anggota OSIS, dan pembinaan kesejahteraan peserta didik. Sedangkan dalam sekolah meliputi pengelolaan kelas, intraksi KBM yang positif, perhatian guru terhadap dinamika kelompok belajar dan tat tertib kelas, presensi secara kontinu, pelaksanaan jadwal pelajaran, pembentukan pengurus kelas, dan penyediaan alat belajar.

Peserta didik pada hakekatnya adalah penerus bangsa, sehingga harus dipersiapkan dan dihindarkan dari kendala yang dapat menghambat peserta didik. Sehingga perlu adanya Pembinaan peserta didik. Maksud akan hal ini adalah mengusahakan agar peserta didik dapat tumbuh dan berkembang sebagai insan seutuhnya. Hal ini bertujuan untuk mengembangkan inisiatif peserta didik. Sehingga peserta didik bisa terhindar dari kenakalan remaja yang sering terjadi pada masa sekarang. 

Kenakalan Remaja memang masalah yang sangat kompleks pada masa sekarang ini. Yang baru- baru ini terjadi adalah tawuran pelajar yang melibatkan SMA 6 Jakarta dan SMA 70 Jakarta. Selain tawuran pelajar terdapat beberapa kenakalan remaja lainnya diantaranya Ngebut, peredaran pornografi di kalangan pelajar, Berpakaian yang tidak pantas, Coret-coret tembok maupun meja dan lainnya. Oleh karena itu perlu diadakannya manajemen peserta didik untuk mencegah hal-hal tersebut terjadi.

Monday, October 1, 2012

Sekolah Sebagai Suatu Sistem

Oleh : Rizka Julia Amanda

Sekolah adalah sebuah lembaga yang dirancang untuk pengajaran siswa di bawah pengawasan guru . Sistem adalah suatu kesatuan yang terdiri dari komponen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan aliran informasi, materi atau energi( id.wikipedia.org ). Sebagai suatu lembaga sekolah mempunyai keterkaitan dengan sebuah sistem. Suatu sistem memilikiinput, proses serta output, begitu juga dengan sekolah yang juga memilki input, proses serta output.

Sekolah sebagai sebuah sistem memiliki beberapa komponen, dimana masing-masing komponen saling berkaitan. Komponen – komponen sistem sekolah terdiri dari masukan (input), proses (process), keluaran (output). Tujuan dari sekolah akan tercapai apabila ketiga komponen ini dapat berjalan dengan baik. Masukan adalah segala sesuatu yang diperlukan oleh sistem sekolah untuk menjalankan proses sehingga menghasilkan keluaran yang diharapkan. Masukkan terdiri dari masukan utama yaitu siswa yang berpotensi untuk dididik, yang kedua masukkan instrumental yaitu guru sebagai tenaga pendidik untuk menjadikan seorang siswa sebagai manusia seutuhnya, yang terakhir yaitu masukkan lingkungan terutama lingkungan sekolah. Masukan di kategorikan menjadi dua yaitu masukan sumber daya dan masukan manajemen. Masukansumber daya meliputi sumberdaya manusia, yaitu kepala sekolah, guru termasuk guru BP, karyawan dan siswa, sedangkan sumber daya lainnya meliputi peralatan, perlengkapan, uang, bahan, dsb. Input manajemen atau kepemimpininan merupakaninput yang berpotensi dalam pembentukan sekolah yang efektif.

 Komponen kedua sekolah sebagai suatu sistem yaitu proses. Proses merupakan segala kegiatan yang dilakukan oleh sekolah, termasuk segala kegiatan yang terjadi di dalam sekolah untuk mengubah masukan agar menghasilkan keluaran yang diharapkan. Proses mencakup kegiatan belajar mengajar, kegiatan pengelolaan sekolah, serta kegiatan administrasi sekolah. Kualitas suatu proses dipengaruhi oleh masukan yang ada , dan tinggi rendahnya mutu dalam suatu proses akan mempengaruhioutput nantinya . Dalam sistem sekolah terjadi juga proses manajemen atau kepemimpinan . Pemimpin harus memberikan motivasi kepada seluruh staf untuk bekerja dengan baik agar berjalannya suatu proses sehingga menghasilkan keluaran yang diharapkan.

Sekolah sebagai suatu sitem berharap memiliki output yang bermutu. Output sekolah berfokus pada siswa, diantaranya yaitu kelulusan siswa. Output yang bermutu yaitu jika seluruh siswa dapat lulus dengan nilai yang memuaskan serta siswa mampu menyerap ilmu-ilmu yang dipelajarinya selama ini. Output sekolah dikatakan bermutu tinggi apabila siswa mampu berprestasi baik dalam bidang akademik maupun non-akademik. 

Ketiga komponen sekolah sebagai suatu sistem sangat penting, akan tetapi kebanyakan sekolah-sekolah terlalu fokus pada input yaitu mengenai berapa siswa yang bersekolah di sekolah tersebat dan juga terlalu fokus pada output yaitu mengenai jumlah kelulusan. Padahal yang terpenting adalah prosesnya yaitu pelaksanaan pendidikan di Sekolah. Apabila proses pembelajaran mempunyai kualitas yang baik maka output yang dihasilkan akan sesuai harapan. Misalnya saja mengenai kelulusan, apabila prosesnya berkualitas maka siswa tidak hanya mendapat predikat lulus saja, tapi juga menjadikan dirinya sebagai lulusan yang berkualitas.

Referensi :
Sutomo, dkk. 2008. Manajemen Sekolah. Semarang : Unnes Press

Karakteristik Sekolah Efektif

Oleh : TRI UTARI
 
 
Di Indonesia, sekolah efektif tampaknya belum begitu populer dalam masyarakat. Kebanyakan masih beranggapan bahwa semua sekolah memiliki kriteria yang sama. Padahal dapat di pastikan setiap sekolah memiliki acuan tersendiri untuk menuju sekolah efektif.Untuk itu perlu adanya pengetahuan tentang sekolah efektif serta kriteria karakteristik sekolah efektif.
Sekolah efektif memandang sekolah sebagai suatu sistem yang mencakup banyak aspek baik input, proses, output serta tatanan yang ada dalam sekolah tersebut. Dimana berbagai aspek yang ada dapat memberikan dukungan satu sama lain untuk mencapai visi, misi dan tujuan, dari sekolah yang dikelola secara efektif dan efisien. Karakteristik sekolah efektif merupakan  aspek-aspek proses persekolahan yang berkontribusi terhadap hasil belajar siswa.
Karakteristik sekolah efektif dapat dikategorikan menjadi 3 yaitu output, proses, dan input. Mengingat output memiliki tingkat kepentingan tertinggi, sedang proses memiliki tingkat kepentingan satu tingkat lebih rendah dari output, dan input memiliki tingkat kepentingan dua tingkat lebih rendah dari output. Untuk itu di mulai dari output dan diakhiri dengan input.
Kategori karakteristik sekolah efektif yang pertama yaitu Output Sekolah Efektif, yang berupa  kinerja sekolah. Output sekolah dikatakan berkualitas/bermutu tinggi jika prestasi sekolah, khusunya prestasi belajar siswa, menunjukkan pencapaian yang tinggi dalam hal : (1) prestasi akademik, dan (2) prestasi non-akademik. Output prestasi akademik misalnya, NEM, lomba karya ilmiah remaja, cara-cara berpikir yang kritis, dan lain sebagainya. Sedangkan output prestasi non-akademik misalnya keingintahuan yang tinggi, harga diri, kejujuran, kerjasama yang baik, dst.
Kategori karakteristik sekolah efektif yang kedua yaitu Output Sekolah Efektif, yang berupa proses belajar memiliki tingkat kepentingan tertinggi dibanding dengan proses- proses lainnya. Proses dikatakan bermutu tinggi apabila pengkoordinasian dan penyerasian serta pemaduan input sekolah (guru, siswa, kurikulum, uang, peralatan dsb) dilakukan secara harmonis,. Sehingganya mampu menciptakan situasi pembelajaran yang menyenangkan (enjoyable learning), mampu mendorong motivasi dan minat belajar, dan benar-benar mampu memberdayakan peserta didik.
Kategori karakteristik sekolah efektif yang ketiga yaitu Input Sekolah Efektif, yang berupa keseluruhan sumber daya sekolah yang mencakup :
(1)  Memiliki Kebijakan, Tujuan, dan Sasaran Mutu yang Jelas;
(2)  Sumberdaya Tersedia dan Siap,
(3)  Staf yang Kompeten dan Berdedikasi Tinggi,
(4)  Memiliki Harapan Prestasi yang Tinggi,
(5)  Fokus pada Pelanggan (Khususnya Siswa),
(6)  Input Manajemen.
 
Referensi:
Sutomo dkk, 2011. Managemen Sekolah. Universitas Negeri Semarang press.